Perlawanan Bangsa Indonesia terhadap Praktik Kolonial Abad XX


Pada awal abad 20, perlawanan bangsa Indonesia tidak dilakukan dengan cara peperangan atau kekuatan senjata tetapi dengan organisasi pergerakan kebangsaan Indonesia. Ciri organisasi tersebut:
  1. Keanggotaan tidak berdasarkan suku.
  2. Pemimpin oraganisasi berasal dari kalangan terdidik.
  3. Mempunyai tujuan yang jelas bagi kepentingan seluruh bangsa.
  4. Memiliki paham kebangsaan atau nasionalisme.


1. Budi Utomo

Politik etis banyak melahirkan golongan cendekiawan yang menyadari pentingnya pendidikan dalam perjuangan menentang penjajah. Untuk mengonsolidasikan diri, pada bulan Oktober 1908 di Yogyakarta diselenggarakan kongres pertama Budi Utomo. Kongres ini mengasilkan beberapa keputusan, yaitu:
  1. Budi Utomo tidak ikut dalam kegiatan politik
  2. Kegiatan diutamakan kepada bidang pendidikan pendidikan dan Budaya.
  3. Cakupan organisasi dibatasi pada daerah Jawa dan Madura.


2. Sarekat Islam

Organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI) didirikan pada tahun 1911 di kota Solo oleh Haji Samanhudi yang bertujuan merebut front melawan semua penghinaan terhadap rakyat Bumiputra. Bila ditinjau anggaran dasarnya, maka tujuan SDI yaitu:
  1. Mengembangkan jiwa berdagang .
  2. Memberi bantuan kepada anggota-anggota yang menderita kesukaran.
  3. Memajukan pengajaran dan semua yang mempercepat naiknya derajat Bumi Putera.
  4. Menentang pendapat pendapat-pendapat yang keliru tentang agama Islam.

Pada tahun 1912 oleh pimpinannya yang baru, yaitu HOS Cokro Aminoto, nama organisasi kemudian diubah menjadi Sarekat Islam (SI). Tujuan penggantian ini untuk memperluas bidang garapan SI, yaitu bidang politik. Pada tahun itu, SI dilarang menerima anggota baru dan mengadakan rapat-rapat. Penggeledahan ke rumah-rumah pun dilakukan. Selain itu, setiap cabang SI diharuskan berdiri sendiri. Ketentuan ini untuk menghindari persatuan di antara anggotanya.

Pada tahun 1918 terjadi pergolakan dalam tubuh SI, yaitu masuknya ajaran Marxis di bawah Semaun dan Darsono. Hal ini menimbulkan debat antara H.A. Agus Salim-Abdul Muis dan Semaun-Tan Malaka. Pada tahun 1921, organisasi ini terpecah menjadi 2, yaitu SI Putih (PSI) dan SI Merah (Sarekat Rakyat).

3. Indische Partij (IP)

Indische Partij adalah organisasi pendukung gagasan revolusi sioner nasional yang didirikan pada 25 Desember 1912 di Bandung. Pendirinya adalah Tigas Serangkai (Douwes Dekker (Dr. Danudirja Setiabudi), RM Suwardi Suryaningrat, dan Tjipto Mangunkusumo). Tujuan dibentuknya organisasi ini untuk menghapuskan kolonialisme yang mengeksploitasi rakyat, membangunkan ptriotisme, dan mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka dengan sistem keanggotaan IP terbuka untuk semua golongan. 

Perkembangan IP ini membuat para pemimpinnya diawasi, dan akibat tulisan durat kabar de express yang berisi kritikan terhadap Belanda, mereka ditangkap serta dibuang ke negeri Belanja pada bulan Agustus 1913. Pengasingan itu membuat IP melemah, kemudian IP berganti nama menjadi Partai Insulinde dan pada tahun 1919 berganti lagi menjadi National Indische Partij (NIP).

4. Perhimpunan Indonesia (IP)

Berdirinya Perhimpunan Indonesia berawal dari didrikannya Indische Vereeninging (IV) pada tahun 1908 di Belanda. Pendirinya antara lain oleh Sultan Kesayangan dan R.W. Noto Suroto. Organisasi ini bertujuan sebagai perkumpulan sosial mahasiwa Indonesia di Belanda untuk memperbincangkan masalah dan persoalan Tanah Air.
Asas pokok perkumpulan ini, yaitu:
  1. Mengusahakan suatu pemerintahan untuk Indonesia, yang bertanggung jawab hanya kepada rakyat Indonesia.
  2. Indonesia harus menentukan nasibnya sendiri.
  3. Persatuan dalam menghadapi Belanda.

Pada tahun 1925, perkumpulan ini berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia (PI) dan 2 tahun sebelumnya, yaitu tahun 1923 majalah mereka Hindia Putra menjadi Indonesia Merdeka.

5. Partai Nasional Indonesia (PNI)

Partai Nasional Indonesia atau PNI didirikan pada tahun 1927. Digawangi oleh tokoh-tokoh besar seperti Ir. Soekarno, Dr. Cipto Mangunkusumo, Ir. Anwari, Sartono SH, Budiarto SH, dan Dr. Samsi PNI tumbuh dan berkembang menjadi salah satu partai politik berpengaruh pada saat itu. pada tahun 1929 PNI melakukan kongres dan menetapkan bendera partai yang bergambar kepala banteng dan mencetuskan cita-cita sosialisme dan semangat non kooperasi. Berita ini pun mulai memicu reaksi dari pemerintahan kolonial Blanda. Muncul berita provokatif yang mengatakan bahwa PNI akan melakukan pemberontakan. 

Yang menjadi dasar dari perjuangan PNI adalah sosionasionalis dan sosiodemokratis atau disingkat dengan istilah yang hingga kini masih kita kenal dengan marhaenisme. PNI benar-benar memisahkan diri dari pemerintahan kolonial belanda dengan menyatakan semangan non kooperasinya dalam kongres 1929. Sikap ini sama dengan gerkan pemuda Indoesia yang ada di Belanda Perhimpunan Indonesia, (baca sejarah perhimpunan Indoensia). Keduanya pun memiliki hubungan yang sangat erat dimana sekembalinya para pemuda yang tergabung di perhimpunan Indonesia mereka kemudian melebur dan bergabung dengan Partai nasional Indonesia.

6. Partai Indonesia (Partindo)

Partai Indonesia didirikan di Jakarta 30 April 1931. Organisasi ini dibentuk oleh Sartono sewaktu menjabat menjadi Ketua PNI. Tujuan Partindo sama dengan PNI yaitu mencapai Indonesia merdeka. Dalam melaksanakan perjuangannya,organisasi ini menerapkan sistem nonkooperatif terhadap pemerintah Belanda. Sebagian besar anggotanya merupakan bekas anggota PNI.

7. Perhimpunan Bangsa Indonesia (PBI)

Perhimpunan Bangsa Indonesia (PBI) didirikan pada bulan Januari 1931. Organisasi ini merupakan penggabungan dari Indonesische Studie Club di Surabaya dan Sarekat Madura. Pada awal berdirinya, organisasi ini diketuai oleh Dr. Sutomo. Tujuan PBI adalah untuk mencapai kedaulatan bangsa. Perjuangan oraganisasi ini dilakukan dengan cara mengembangkan pendidikan, membuka lapangan kerja, sarana kesehatan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Pada tahun 1935, organisasi ini bergabung kedalam partai Indonesia Raya.

8. Partai Indonesia Raya (Parindra)

Partai Indonesia Raya (Perinda) didirikan pada tanggal 5 desember 1935. Partai ini merupakan dari Budi Utomo dengan perhimpunan bangsa Indonesia dan beberapa organisasi lain. Tujuan partai ini adalah untuk mewujudkan Indonesia Raya, dengan haluan kooperatif terhadap pemerintah Belanda. Partai ini berdasarkan patriotisme, kerakyatan, dan keadilan sosial. Sifatnya yang kooperatif membuat partai ini memiliki perwakilan di Volksrad, seperti M. Husni Thamrin. Di lembaga ini, ia memperjuangkan nasib rakyat Bumiputra. Tokoh-tokoh lainnya adalah R. Panji Suroso, R.M.A. Wuryaningrat, Mr. Susanto Tirtoprojo, dan lain-lain. 

Komentar